Ini Bukan Senja Terakhir
Sejak bangun tidur Cita tak ada hentinya mengeluh. Yang kaos kaki hilang. Belum lagi teriak-teriak mencari buku agendanya yang ikut-ikutan raib. Maka jadilah suasana pagi di rumah Cita seperti pasar pindah.
Lebih- lebih ketika mendekati pukul setengah tujuh saat kapan Cita harus berangkat sekolah. Duh,……….
Untunglah Cita segera pergi. Kalau nggak barangkali para tetangga sudah berdatangan sambil mengirim karangan bunga duka cita. Kok?!
Ya, gitu. Maunya para tetangga, kalau Cita nggak segera lenyap maka mereka akan segera mengebom rumahnya. Ih, sadis!!!
“ Hai, cewek!! Godain kita, dong!” Beberapa mulut usil menyambut Cita di pintu gerbang sekolah. Pasti Cowok!
Ah, enggak juga. Ada ceweknya, tuh. Tapi peduli amat. Yang penting aku harus segera bertemu dengan Cahyo, teriak Cita dalam hatinya.
Tapi dicuekin begitu, toh, mulut-mulut usil itu nggak mau berhenti. Malah tambah menjadi-jadi. Apalagi melihat raut muka Cita yang serius banget.
“ Duh, sombong banget sih tuh cewek. Yo..Cahyo….. emangnya kamu nggak ngapelin dia tadi malam?” teriak seseorang cukup keras untuk didengar Cita bahkan barangkali juga didengar oleh Jin sekalipun.
Nah!! Betul, khan! Kena dia sekarang.
Cita langsung berhenti. Berbalik seratus delapanpuluh derajat. Pasang senyum. Dan…..
“ Huuuuu!!!!”
Maka semakin bergemuruhlah tawa gerombolan liar tadi. Dan Cita cepat-cepat lari meninggalkan mereka.
Gila. Anak-anak gila. Kok mereka bisa sekolah disini, sih? Cita menggerutu kesal. Tapi bisanya hanya menggerutu. Bukan takut. Hanya saja ada yang lebih penting dari sekedar meladeni anak-anak usil itu. Dan yang lebih penting itu adalah Cahyo!
Cahyo adalah makhluk paling manis di mata Cita. Selain itu Cahyo juga adalah makhluk paling menyebalkan di hati Cita. Gimana nggak nyebelin kalau Cahyo sampai detik ini masih saja pura-pura bodoh (emang bodoh, kali...). Sok nggak ngerti kalau Cita naksir berat sama dia. Padahal orang sedunia saja udah pada tau. Eh, udah gitu si Cahyo malah sok kenal sok dekat sama Ersanda Hikmawati, sobatnya. Padahal kalau dipikir-pikir Cita itu lebih cantik, lebih manis, lebih imut dan lebih...........ehm.....lebih apa lagi ya? Pokoknya lebih dari Ersanda. Gitu saja kok repot.
Nah, setelah melalui pertimbangan yang matang dan seksama maka Cita tadi malam udah punya keputusan penting yang musti segera disampaikan kepada pihak yang berwajib, eh, maksudnya kepada Cahyo. Dan keputusannya adalah.............
“ Hey, lihat-lihat dong kalau jalan!!” teriak Cita kasar. Cita benar-benar marah. Lagi enak-enaknya ngelamun malah tubuhnya ditabrak orang tak bertanggung jawab. Buku-buku yang nggak sempat dimasukkan ke dalam tasnya jadi berantakan di lantai lorong sekolah.
“ Eh, sorry, Ta....” suara memelas itu langsung saja membuat Cita jadi lemas.
“ Sudah, nggak usah meminta maaf, Yo. Aku kok yang salah......” wajah Cita jadi merah padam. Apalagi saat sedang ngumpulin bukunya yang berserakan, tangannya bersentuhan dengan jari jemari Cahyo yang juga akan ngebantuin Cita (duh, kayak adegan sinetron saja). Oh my God, aku musti ngapain sekarang, teriak Cita dalam hatinya. Rangkaian kalimat yang tadi malam udah disiapin dan dihapalin tiba-tiba hilang lenyap tak berbekas.
“ Hey, kok malah melamun?” tanya Cahyo ngagetin.
“ Eh, enggak kok. Udah ya, aku musti buru-buru nih...” kata Cita sambil berlalu ninggalin Cahyo. Cahyo tersenyum melihat Cita yang sepertinya serba salah tingkah. Tapi, emangnya gue pikirin, kata Cahyo. Dan seperti nggak ada apa-apa, Cahyo ngelanjutin perjalanannya. Nyantai banget. Padahal saat itu Cita yang udah berada di kelasnya sedang ngintip tingkah laku Cahyo. Tahu khan perasaan Cita? Sebel banget!!!
Tapi Cahyo nggak sebel. Cahyo malah lagi seneng banget. Ersanda yang dicari-carinya mulai tadi berhasil ditemukan di kantin. Sebegitu senengnya, Cahyo sampai teriak-teriak kayak Tarzan.
“Oaeo......Ersandaaaaaaaa......how are youuuuuu Yuhuuuuu.......”
“ Hey, ngapain kamu, Yo? Obatnya lupa nggak diminum, ya?” tanya Ersanda sambil tersenyum.
“ Duh, Ersanda, betapa tak ada yang lebih membahagiakan hatiku pagi ini selain ketemu sama kamu...” kata Cahyo berlagak seorang penyair. Begitu selesai ngomong, langsung saja Cahyo menarik tangan Ersanda. Untung saja segelas teh yang ada di hadapan Ersanda udah habis-bis. Kalau tidak pasti udah dijadikan rebutan anak-anak nongkrong yang sukanya nungguin bekas makanan dan minuman yang masih lumayan banyak (ih, jorok).
“ Eh, tunggu dulu dong. Aku khan belom membayar......”
“ Udah, deh, nanti saja....”
“ Gila....bisa-bisa aku entar digebukin sama Ibu kantin.”
“ Aduh...cepetan dong, Er. Hampir bel masuk nih...”
“ O, pasti tentang PR, nih....”
“ Hi....hi...hi...” Cahyo cengengesan ketahuan maunya.
Sementara itu di ujung timur lorong kelas...................
Cita hanya bisa terdiam. Menatap tajam ke arah Cahyo dan Ersanda. Dan tiba-tiba ada dendam yang membara di dalam hati Cita. Dendam yang meledak-ledak dan siap melumat seorang manusia bernama Ersanda. Dendam yang tiba-tiba pula membuat kedua mata Cita meneteskan air mata.
Keesokan harinya saat istirahat. Cita udah nongkong bersama anak-anak usil di depan perpustakaan. Wajahnya cerah. Saat Ersanda melintas di depannya......
“ Hey, cewek...godain kita-kita dong...” teriak seorang cowok yang sedang duduk rapat di sebelah Cita. Cita tersenyum senang melihat Ersanda salah tingkah. Bahkan ketika Ersanda melemparkan senyum manisnya pada Cita, Cita malah tertawa terpingkal-pingkal diikuti oleh teman-teman nongkrongnya. Ersanda cuek saja. Malah dia tetap saja tersenyum sambil say hello pada Cita.
Api dendam di hati Cita semakin membara. Tapi toh api itu tak berhasil membakar Ersanda. Paling-paling Ersanda cuman heran, kok tumben-tumbennya Cita gabungan sama anak-anak usil itu. Padahal dulu-dulunya Cita sudah menabuh genderang perang dengan mereka. Anehnya lagi, waktu Ersanda menyapanya, Cita malah pura-pura nggak mendengarnya. Eh, jangan-jangan telinga Cita kena penyakit tu........O, tidak! Mudah-mudahan perkiraanku salah, kata Ersanda dalam hatinya.
Matahari hampir terbenam ketika tiba-tiba kakaknya memberitahu kalau ada teman Cita yang sedang mencarinya. Sebenarnya Cita lagi malas untuk menemui siapapun. Tapi entah kenapa saat itu langkah Cita membawanya ke ruang tamu. Dan.....
“ Cahyo.......” teriak Cita tertahan. Dan ketika dia melihat sosok lain di sebelah Cahyo, Cita langsung balik kanan hendak kembali ke kamarnya.
“ Tunggu, Cita.....” tahan Cahyo. Langkah Cita terhenti.
“ Ada yang ingin kami tanyakan padamu......” Kata Cahyo lagi. Cita tetap tidak berbalik arah.
“ Tidak bolehkah kami berbicara denganmu, Cita?” tanya Cahyo.
“ Tidak boleh! Kalian sebaiknya pulang,” kata Cita. Tapi Cita tak mampu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Cahyo dan Ersanda.
“ Cita, please beri kami waktu sebentar saja......” pinta Cahyo. Ersanda tak berkata sepatah katapun.
“ Okey, sekarang bicaralah.......”
“ Aku kepingin tau kenapa kamu kayaknya sinis terhadap aku dan juga Ersanda...”
“ O, jadi kamu ngerasain juga?” Cita langsung berbalik arah menatap tajam mata Cahyo.
“ Ya..”
“ Trus, apa maumu?”
“ Ya itu tadi, kenapa kamu sinis banget?”
“ Apakah kamu cemburu sama aku?” tanya Ersanda tiba-tiba. Wajah Cita berubah merah. Marah. Malu. Sebel. Semua bercampur aduk dalam hatinya. Cita langsung menatap tajam Ersanda. Tersenyum sinis.
“ Iya, khan?” tanya Ersanda lagi.
“ Stop! Kalau kalian datang kemari hanya untuk memojokkan aku sebaiknya kalian pulang saja. Selamat sore.” Cita melangkahkan kakinya perlahan.
“ Tunggu dulu Cita. Baik kami akan pulang. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui, Cit. Antara aku dan Ersanda tidak ada hubungan apa-apa. Kami bersahabat dengan tulus. Seperti aku sama kamu dan juga seperti ketika dulu untuk pertama kalinya kamu bersahabat dengan Ersanda. Apalagi sebentar lagi kita akan ujian. Kita perlu konsentrasi, Cita. Terus terang Ersanda bingung dengan sikap sinismu. Ersanda masih menganggapmu seorang sahabat. Tapi kamu malah menjauhinya....”
“ Cukup, Cahyo. Sekarang aku mohon kalian pulang. Biarkan aku sendiri. Tolonglah Cahyo......” Cita tak mampu bicara lagi. Dia berlari menuju kamarnya sambil membiarkan pipinya basah dengan air mata.
Di ufuk barat, matahari sudah tak terlihat lagi. Seruan adzan maghrib sudah sejak tadi berkumandang. Cita mengusap air matanya yang membasahi pipinya. Ditariknya nafas dalam-dalam. Setelah itu Cita melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Cita yakin senja ini bukanlah senja terakhir. Masih akan banyak senja-senja lain yang siap mengantarnya ke alam mimpi di tidur malamnya nanti.
Bantaran, 5 Maret 2004
Selamat Ulang Tahun
14 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



1 komentar:
cukup menyentuh...
kapan-2 dikirim ke koran gih..
lumayan dapat honor.
Posting Komentar