Kalau Saja
Ada Sejuta Ilalang
Menjumpai Sahabatku,
Kalau saja hari ini aku berhasil menemukan sejuta ilalang di padang yang maha luas ini, maka aku akan berusaha membuat pintalan benang yang cukup panjang untuk mengikat hati kita. Agar secepat apapun waktu melintasi dan sejauh apapun jarak membelah kenangan kita, setidaknya masih ada kerinduan yang akan membawa kita untuk kembali bertemu dan menyatu.
Kalau saja hari ini aku tiba-tiba berobah menjadi seorang penyair yang terbiasa ciptakan sejuta rangkaian kata, maka aku akan ada tepat didepanmu; Berlutut dengan setangkai melati di kedua telapak tanganku; lalu kuulurkan setangkai melati itu tepat ke wajahmu; dan meman-dangmu tanpa berkedip. Kemudian aku akan berkata: Lihatlah, aku adalah seorang penyair yang kehilangan banyak kata saat ada di hadapanmu. Maka saat nanti engkau tak ada disini lagi, tolong kirimkan mimpimu dan rindumu padaku untuk kutuliskan di lembaran-lembaran kertas yang telah lama kosong ini.
Terserah apakah kamu akan bersedia untuk mempercayai. Atau kamu akan berpura-pura untuk tidak mendengarnya – seperti yang biasa kamu lakukan selama ini. Yang pasti aku tidak ingin menghabiskan hari ini dengan banyak berdebat denganmu. Aku hanya ingin mendengarkan deru nafasmu agar bisa kusatukan dengan deru angin. Dengan begitu, ketika kamu tak lagi ada disam-pingku, aku akan bisa berdebat lagi denganmu lewat deru angin pada setiap saat aku merindukan caci makimu.
Terserah apakah kamu akan bersedih atau malah tertawa terbahak-bahak. Bagiku, bahagia dan sedih itu sama saja. Dipercaya atau tidak, juga sama saja. Selagi semuanya itu untuk kamu, karena kamu, dan demi kamu maka badaipun tak bisa kubedakan dengan semilir a-ngin. Bahkan bila beribu atau berjuta duka yang ada di alam semesta ini bersatu untuk mencabik-cabik hatiku, aku pun tak kan terlalu mempedulikannya. Tahukah kamu kenapa? Karena: Sedikit saja ada kerinduanmu padaku, maka itu adalah kebahagiaan yang melebihi luasnya langit.
Atau malah sebaliknya. Sedetik saja kamu menghilangkan bayanganku dari lamunanmu, maka entah kesedihan macam apa yang akan merebut setiap ke- ping mimpi yang telah kususun.
Dan, hari ini barangkali kita telah sampai di batas perjalanan kebersamaan kita. Juga barangkali ini adalah kata-kata terakhir yang masih sempat kuciptakan dan kuucapkan. Karena selanjutnya aku hanya akan banyak berharap pada bentang malam yang semoga selalu datang dengan membawa kerinduanmu padaku. Atau aku hanya akan bisa menunggu kemilau mentari pagi untuk membawa kerinduanku padamu lewat kicau burung.
Dan, hari ini, sungguh, aku tiba-tiba percaya kembali pada cinta. Dan itu justru di saat yang penghabisan dalam kebersamaan kita.
Tahukah kamu kenapa?
Aku tiba - tiba takut kehilangan kamu.
Itu jawabannya.
Karena itu, Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan padaku selama ini: Perhatian, Kasih sayang, atau entah apa lagi namanya.
Selamat Jalan…



Tidak ada komentar:
Posting Komentar